Menjadi Power Ranger

7:16 PM


Selasa sore pukul 6.30

Semakin tua, gue merasa bahwa hidup tak lagi sederhana secara pemikiran. Seperti makan harus tau kalori, hidup juga harus tau resiko akan pilihan yang kita ambil. Sama seperti menciptakan prediksi, hidup juga harus menerka-nerka meskipun Tuhan sudah mempersiapkan jalan di depan.

Seperti ragu, tapi juga optimis.

Bener gak? Atau gue yang terlalu rumit dalam berpikir.

Ada banyak kegiatan sepele yang dulu waktu kita kecil bisa dilakukan dengan mudah tanpa banyak berpikir. Misalnya jadi power ranger kesukaan tanpa harus memikirkan, kenapa gue pilih warna ini, siapa nama pemeran asli power rangernya, bagaimana cara 'berubah'nya. Kita tak peduli.

Memilih pun paling alasannya sederhana, jurusnya keren dan 'suka' aja. Gue aja dulu gak inget kenapa bisa pilih warna biru.

Cara berpikir sederhana yang mengutamakan 'suka' ini mulai pudar ketika gue dan juga lo beranjak dewasa. Cepat atau lambat, lo akan selalu berpikir dua, tiga, hingga ratusan kali untuk memilih apa yang akan lo lakukan. Itu juga yang gue lakukan.

Dulu ketika gue memilih menjadi power ranger biru, gue gak mikir apa-apa langsung bergaya layaknya si power ranger pas mau berubah. Bawa pedang atau pistol mainan, trus menghayati dengan rasa percaya diri maksimal. Lari-lari di tengah jalan sambil teriak 'berubah'. Trus membayangkan gimana megazord bisa datang dari langit. Seru banget pokoknya.

Tapi kalau sekarang, mungkin jadi power ranger biru yang seru udah gak lagi 'gampang' dan sederhana.

Ketika tua, kita dihadapkan oleh banyak alasan sebelum memilih. Jika analoginya power ranger, mungkin gue akan bertanya apa arti warna biru, bagaimana jurus berubah itu bisa muncul, dan kenapa gue gak milih power ranger merah yang lebih kuat. Dan kalopun gue jadi pilih warna biru, gue akan mikir ratusan kali untuk berlagak sang power ranger di tengah jalanan depan rumah. Paling maksimal juga pakai topeng dan gak bakal berani teriak 'berubah!'.

Perlahan, kata seru mulai pudar akibat 'takut' yang semu.

Menurut gue, mungkin ini ada hubungannya dengan lingkungan dan cara pandang orang lain.

Dulu pas gue kecil, rasanya persepsi diri dibentengi sangat tinggi oleh ego pribadi. Sampai-sampai dikatai orang gila sama tetangga aja gue gak peduli. Yang penting jadi power ranger biru. Yang gue mau cuma itu. Mau orang ngomong apa, gue gak mau tau.

Tapi, beranjak tua, benteng yang tinggi ini mulai terkikis perlahan.

Gue yang pas kecil sangat 'bodo amat', kini suka tenggelam dalam persepsi orang. Mungkin kalo dulu bisa menjadi power ranger tanpa malu, sekarang dikatain 'orang gila' adalah label yang sangat bahaya. Ya, menjadi gila yang memiliki tujuan memang bagus. Tapi bisa saja orang menganggap gue gila secara harfiah.

Persepsi orang ini juga mempengaruhi cara pandang gue secara perlahan. Gue sadar bahwa ini menakutkan memang, tapi semakin tua, semakin lo harus tau bagaimana menyikapi sebuah pemikiran. Egois ini harus dipertimbangkan, dan menjadi nomor sekian dalam prioritas. 100% idealis adalah tindakan yang kurang tepat.

Pilihan akan hidup gue ke depan tentu gue yang pegang. Tapi keputusan yang gue ambil tak akan semena-mena apa yang gue mau. Masih ada keluarga dan teman-teman di sekeliling gue.

Sekarang, gue sedang berusaha untuk maju ke depan dengan kaca mata kuda. Gue harus fokus dan mengurangi pengaruh dari persepsi orang. Yang gue lakukan di kemudian hari adalah bentuk keputusan hari ini. Begitu juga dengan lo yang baca ini, semoga gue dan lo bisa fokus menjadi power ranger masing-masing tanpa harus bertanya banyak hal dan takut dikatain orang lain.

Jadi lah power ranger apapun yang kamu suka.


Note: maaf jika tulisan ini terlalu membingungkan. :)

You Might Also Like

0 comments