Generasi Galau dan Generasi Bangga Penuh Dosa

7:42 AM


Beberapa hari yang lalu gue secara tak sadar memutar sebuah lagu dari band Ungu. Gue lupa judulnya apa, tapi lagu itu tiba-tiba punya unsur magis untuk mengubah suasana hati yang sebelumnya biasa saja menjadi sedikit galau.

Aneh, suasana mendadak melow, padahal hati sedang biasa-biasa saja.

Selang beberapa waktu. gue tersadar kalo ini pasti ada pengaruh dari musik yang sedang gue denger. Gue seperti diajak bernostalgia.

Musik Saat Gue SMP

Sebelum membahas lebih dalam soal perasaan dan musik, gue masih ingat dengan jelas ketika gue dulu SMP, banyak lagu-lagu cinta dari genre musik pop yang memiliki lirik galau. Oh ya, di masa gue SMP dulu, kata galau gak begitu populer sih, umumnya dibilang lagu melow.

Lagu semacam Ada Apa Denganmu dari Peterpan yang kala itu ngehits banget, kemudian disusul oleh lagu-lagu Letto semacam Sebelum Cahaya yang meledak dari sinetron Cahaya, lanjut lagi ke lagu Demi Waktu dari Ungu, dan masih banyak lagi. Semuanya punya satu bahan jualan yang sama, lagu cinta yang penuh sendu dan emosi.

Kala itu lagu-lagu yang gue sebutin tadi berhasil jadi bahan konsumsi sehari-hari orang di sekeliling gue. Maksud gue, hampir semua kalangan mendengarkan lagu ini karena emang enak didenger dan punya lirik yang dalam. Mungkin ada sedikit yang gak suka, tapi umumnya orang-orang menikmati lagu ini.

Dulu, menikmati musik gak semudah sekarang yang tinggal buka YouTube, Spotify, atau media streaming lainnya. Dulu cuma di warnet atau counter handphone yang punya stok musik melimpah. Alhasil kirim mengirim lagu pun jadi hobi tak sadar yang gue dan temen-temen gue lakukan. Zaman masih seru-serunya pake Ultra MP3, pada inget gak? haha

Nah, karena menikmati musik belum begitu gampang, anak-anak seusia gue dulu suka banget memutar lagu di kelas atau di mana aja, asal ada speaker handphone. Meskipun lagu hasil kompresi yang ukurannya sekitar 300-500KB, tapi gue dulu sangat menikmatinya. Bahkan, pada masa itu hampir semua merk Handphone mengeluarkan model khusus untuk musik. Sony Walkman atau Nokia 3250 yang speakernya dikenal kenceng banget. Tanpa sadar, mendengarkan musik jadi bahan kapitalisasi.

Selain lagu punk-rock dari SID, Green Day, Blink 182, Endank Soekamti, atau semacamnya, lagu-lagu dari band pop juga gue konsumsi, Ungu, Peterpan, Letto, Naff, jadi band yang memuncaki daftar. Ini sifatnya komplementer sih. Di lain sisi gue merasa rebel, di lain sisi hati gue juga punya perasaan. Jadi musik-musik galau juga diperlukan. Lagian, selalu mendengarkan lagu dari genre yang sama bakal membosankan juga.

Lalu, lagu-lagu yang sering gue denger kala itu pun perlahan merambat ke memori dalam otak gue. Bahkan secara spesifik tiap-tiap lagu punya momen tersendiri. Ini yang jadi alasan mengapa lagu Ungu yang gue denger baru-baru ini bisa membuat suasana hati tiba-tiba berubah.

Jelas pada akhirnya. Sepertinya musik punya daya magis dalam mengembalikan memori. Gue sih percaya itu.

Kenapa generasi 90an rentan Galau?

Sebenernya ini adalah bagian pembahasan utama gue. Setelah dibuka dengan pengalaman pribadi, gue mau ngomongin soal musik tiap generasi dan perkembangan ABG di masa mendatang.

Berangkat dari lagu Ungu yang bisa dengan cepat mengubah suasana hati gue. Perlahan gue tersadar bahwa "galau" yang sering kita omongin dan rasain sekarang itu bukan cuma slang semata. Kata "galau" gak cuma hadir untuk menambah kosakata slang baru, lalu kemudian hilang kayak Kamseupay, Cape Deh, Masalah Buat Lo, dll. Kata "galau" hadir karena kita semasa remaja udah dipupuk untuk memikirkan perasaan secara berlebih lewat musik. Gak percaya? Gue punya daftar musik populer dari MTV untuk tahun 2005 sampai 2011. Gue ambil dari situs ini.

Gue mau ambil sample dari tahun 2006. Ini daftar lagunya

  1. Bondan Prakoso feat. Fade 2 Black – Bunga
  2. Peter Pan – Semua Tentang Kita
  3. Ungu – Tercipta Untukku
  4. Peter Pan – Yang Terdalam
  5. Once – Dealova
  6. ST12 -  Rasa Yang Tertinggal
  7. Delon & Mayumi Itsuwa – Kokoronotomo
  8. Edane - Kau Pikir Kaulah Segalanya
  9. Audy – Satu Jam Saja
  10. Anima – Bintang

Coba lihat. Lirik dari 10 lagu di atas isinya ngomongin cinta semua kan?

Tapi kan cinta gak melulu galau.

Coba deh dengerin semua lagunya. Pasti merujuk ke kesedihan atau perasaaan akan cinta yang terlampau berlebihan.

Harus diakui. Generasi galau kita saat ini bukan hanya tren yang diciptakan Raditya Dika semata. Ini soal konsumsi kita di masa dulu yang berbuah pribadi melankolis. Gak heran kalau anak ABG sekarang yang dikit-dikit ngomongin cinta, tiba-tiba jadi galau. Ngomongin apapun yang bawa-bawa perasaan bahkan bisa difatwa galau. Bahkan, di Spotify pun ada playlist Generasi Galau.

Sebenernya gue mau ngebahas lirik per lirik yang kentara banget kalau kita diajarin untuk berharap lebih soal cinta. Tapi nanti aja deh, takut kepanjangan dan membosankan haha.

Gue mau menyudahi tulisan ini dengan sebuah gagasan kalau generasi di masa datang akan punya pribadi atau bentuk karakter yang terbangun dari musik yang ia konsumsi dahulu. Orang tua kita, kita sendiri, dan adik-adik kita bakal punya pribadi yang beda, sesuai dengan musik yang didengarkan.

Mendengarkan lagu rock yang penuh optimis akan membuat lo jadi pribadi yang tangguh. Mendengarkan lagu pop yang penuh kebahagiaan akan membuat lo jadi pribadi yang ceria.

Intinya, jangan heran kalau anak-anak yang kini SMP  akan terlihat sangat bengal di masa depan. Gue juga gak akan kaget lagi kalo kebanyakan anak-anak SMP saat ini akan jadi sombong dan bangga akan kenakalan mereka di masa remaja nanti.

Namanya juga kebanyakan dengerin lagu yonglek.

Gue gak menyalahkan selera musik sih, gue cuma mau mengutarakan sebuah dampak dari selera musik. Dengerin apapun sah-sah aja, kok.

Maaf kalo ada salah-salah kata.

Kalian semua Suci aku Bojongsoang.

Salam dari generasi galau untuk generasi nakal tapi tampan dan penuh dosa.

You Might Also Like

0 comments